NASKAH DRAMA “OUR LAST HOPE”
SEBAGAI MATERI BERMAIN PERAN PADA MATERI KULIAH
BAHASA INDONESIA
Diajukan untuk memenuhi Tugas Bahasa Indonesia sebagai syarat untuk mendapatkan nilai UAS

Produser: Nosolin Marerabuyan
Skenario: Agustina Wally
Editor : Mateo R.H. Bisai
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN SURYA
TANGERANG
2015
Judul: Our Last Hope
Daftar Pemain Peran:
1. Andrina D. Ramandey (Sebagai Fitri)
2. Junaedi Langden (Sebagai Pak Warno)
3. Mateo R.H. Bisai (Sebagai Pengusaha)
4. Casperius Robaha (Sebagai Masyarakat 2)
5. Bertus M. Swabra (Sebagai Kepala Sekolah)
6. Enny D. Towansiba (Sebagai Guru 2)
7. Agustina Wally (Sebagai Guru 1)
8. Nosolin Marerabuyan (Sebagai Siti, sahabat Fitri)
9. Cais Dangeubun (Sebagai Maman, sahabat Fitri)
Our Last Hope
Narator :
Dipagi yang cerah, disaat semua kehidupan di Desa Suka Maju berjalan dengan baik dan tentram, dimana
semua elemen masyarakat hidup dengan damai, saling menghormati, dan memiliki sikap tolong menolong.
Namun, kedamaian dan keharmonisan itu berubah menjadi rasa takut dan ketidakberdayaan, lantaran ahli
waris dari tanah yang sedang dibangun sekolah, Pak Warno ingin menggusur sekolah dan menjual tanah di
daerah yang didirikan sekolah kepada seorang pengusaha kaya yang ada dikota. Pak Warno hanya hidup
dengan anak tunggalnya yang bernama Fitri yang juga bersekolah di sekolah yang hendak digusur oleh
ayahnya karena ketamakan dari ayahnya, Pak Warno. Sekolah yang hendak digusur tersebut
adalah SMA Negeri Desa Suka Maju. Para elemen masyarakat pun mulai membicarakan perkara ini dan
mencoba untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada.
(Di sekolah)
Guru 1 : Pak, apa yang harus kita lakukan? Pak Warno, ahli waris dari tanah ini sudah mengambil tindakan dengan menutup akses ke sekolah. (Berbicara, sambil menatap kepada kepala sekolah)
Kepala Sekolah : Entahlah Bu, saya juga bingung harus berbuat apa karena secara hukum tanah ini memang adalah milik Pak Warno sebagai ahli waris dari Hj. Rudi.
Guru 2 : Memang yah, orang itu tidak memiliki hati. Masa iya sekolah yang menjadi tempat bersekolah anak-anak dikampung ini mau digusur dan dijual kepada pengusaha kaya? Dimana hatinya coba?
Guru 1 : Husss..... Hati-hati kalau bicara, kita juga mau buat apa? Toh secara hukum tanah ini memang milik keluarga Pak Warno. Andaikata Hj. Rudi, Bapak dari Pak Warno masih hidup, beliau tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Jika Hj. Rudi masih hidup, sekolah dapat melakukan proses pembelajaran tanpa penuh rasa takut seperti sekarang ini.
Kepsek : Ya sudah. Sekarang yang harus kita lakukan adalah berdoa dan tidak putus harapan bahwa Pak Warno akan berubah pikiran dan tidak menjual tanah ini ke pengusaha kaya tersebut.
Guru 1, 2 : Iya Pak. (Menjawab dengan serentak)
Narator: Sementara itu, beberapa masyarakat berkumpul di balai Desa dan membicarakan masalah yang
sedang dihadapi oleh masyarakat di Desa Suka Maju.
Masyarakat 1: Hai kalian sudah dengar kan kalau sekolah tempat anak kita bersekolah akan segera digusur dan akan dibangun pabrik oleh pengusaha kaya.
Masyarakat 2: Oh ya? Aku kok baru tau yah?
Masyarakat 3: Ya iyalah, kamu kan agak lambat (sambil tertawa kecil).
Masyarakat 2: Kasihan anak-anak kita, gak punya tempat belajar lagi dong. Sekolah itu kan cuma satu-satunya sekolah tingkat SMA yang ada di kampung kita ini. Masa iya, anak-anak kita harus bersekolah di kota? Sebagian bahkan hampir semua warga di kampung kita ini kan tidak memiliki kerabat di kota.
Masyarakat 3: memang keterlaluan sekali anak Hj. Rudi itu, mentang-mentang ayahnya sudah meninggal, ia sudah mulai melakukan hal kejam ini.
Msyarakat 1: Ibu, saya mohon sama ibu, tolong bantu agar sekolah itu tidak jadi digusur. Ibu kan adalah guru di sekolah tersebut. Ibu, saya mohon. Kasihan anak-anak kami, mau bersekolah dimana lagi, Ibu. Hanya sekolah itu satu-satunya harapan kami.
Masyarakat 1: Iya Pak, kami di sekolah pun sedang membicarakan hal ini. Yang dapat kita lakukan adalah menanti keajaiban dari yang Maha Kuasa.
Siti : Iya Ibu, Siti juga tak tau harus bersekolah dimana nantinya, jika sampai Pak Warno menggusur sekolah, Bu.
Masyarakat 2: Siti, yang dapat kita lakukan sekarang adalah berdoa saja, semoga Pak Warno membatalkan rencananya itu. Kalaupun kita mau melawan Pak Warno secara hukum, kita akan kalah, karena jelas-jelas ahli waris dari Hj. Rudi itu adalah Pak Warno.
Masyarakat : Bukan hanya siswa-siswi di sekolah yang bingung mau melanjutkan pendidikan dimana, saya pun akan bingung harus bekerja dimana.
Narator: Semua masyarakat membicarakan dan mulai berpikir untuk mencari cara agar dapat menyesesaikan
permasalahan ini.
(Di sekolah)
Narator : (Setelah proses pembelajaran selesai, terjadi percakapan di dalam kelas.
Percakapan itu terjadi antara Fitri dan Rina).
Siti : Fit, apa benar bapa kamu mau menggusur sekolah ini dan menjual tanah ini untuk pengusaha dari kota itu ? Apa benar?
Fitri : ( hanya mengangguk).
Maman : Kok bapa kamu tega sih? bukankah kamu juga sekolah di sini?
Fitri : Aku juga nggak tau Man! Dan juga, apa yang bisa aku perbuat coba?
Narator : (Ditengah percakapan tiga orang tersebut, tiba - tiba muncul kepala sekolah)
Kepsek : Fitri, boleh bapak bicara sebentar ? Kalau bisa, Bapak tunggu di ruangan Bapak Yah ?
( Diruangan kepala sekolah )
Kepsek: Fitri, bapak tidak tau harus berbuat apa terhadap sekolah kita ini. Karena secara
hukum, kita tidak dapat mempertahankan sekolah ini. Bapak dan semua teman-teman kamu cuma bisa berharap agar Bapak kamu mau mengubah rencananya untuk menjual lahan dimana sekolah kita didirikan. Kamu tau kan, kalau sebagian besar bahkan hampir semua teman - teman kamu tidak memiliki keluarga di kota, dan untuk menyesuaikan diri di kota itu agak susah. Bapak harap kamu bisa membujuk bapamu agar dia tidak menjual tanah ini untuk pengusaha kaya itu.
Fitri : Saya akan usahakan Pak. Saya juga tidak ingin bersekolah dikota dan saya juga tidak ingin melihat teman - teman saya harus mananggung kesengsaraan seperti itu.
Narator : Di rumah Pak Warno, terjadi perdebatan antara Fitri dan ayahnya. Fitri terus-menerus membujuk ayahnya agar tidak menjual tanah itu. Namun Ayahnya telah memberikan sertifikat tanah beserta surat-surat lainnya kepada pengusaha kaya tersebut.
(Rumah Pak Warno)
Fitri : Ayah, apakah ayah tidak kasihan sama teman-teman ? Kasihan teman-teman Fitri, mereka harus bersekolah di mana Ayah ?
Pak Warno: Soal teman - teman kamu, Ayah tidak tahu, yang Ayah tau kamu akan bersekolah di kota dan tinggal dengan bibimu.
Fitri : Ayah, hanya karena uang, Ayah mengorbankan masa depan anak - anak disekolah itu. Apa ayah tidak merasa bersalah ataupun kasihan pada kami, ayah?
Pak Warno: FITRI !!!! ( Dengan suara yang besar ) Ayah bilang cukup. 2 hari lagi akan dilakukan penggusuran. Kamu siap-siao saja karena ayah akan mengantarkan kamu ke kota
Fitri : Fitri tidak mau Ayah!! .........(sambil menangis tersebu-sedu)
Narator: Keesokan harinya, Fitri mendengar bahwa pengusaha kaya itu akan mengecek sekolah sebelum
melakukan pergusuran. Fitri pun berencana untuk menemui pengusaha itu secara diam-diam.
( Disekolah )
Fitri : Permisi Pak ( mendekati pengusaha itu )
Pengusaha : Iya, siapa ya?
Fitri : Perkenalkan saya Fitri, anak dari Pak Warno.
Pengusaha : Oh...ya ampun ternyata benar kata Ayah kamu bahwa kamu cantik. Aku saja sampai tak tau kalau kau itu anak Pak Warno.
Fitri : Pak! Saya mohon sama Bapak, tolong jangan gusur sekolah ini. Saya
mohon pak.
Narator : Melihat tekad kuat dari Fitri tersebut, serta dengan rasa ketertarikan kepada Fitri. Pengusaha tersebut pun
memikirkan satu rencana agar apa yang diharapkan Fitri itu dapat terkabul. Akhirnya pengusaha tersebut
mengabulkan permintaan Fitri dengan syarat bahwa Fitri harus mau menikah dengan dia ketika tamat dari
sekolahnya itu. Ia melakukan hal tersebut karena dia tidak ingin melihat teman - temannya menderita.
Rencana menikah yang diatur oleh pengusaha dan Fitri itu terdengar oleh Ayah Fitri. Namun, tak ada rasa penyasalan dalam hati Pak Warno takala menikahkan anaknya itu dengan pengusaha yang telah lama menduda. Karena rencana tersebut, sekolah akhirnya tidak jadi digusur dan proses
pembelajaran itu boleh berjalan dengan baik hingga Fitri lulus SMA. Setelah lulus SMA, Fitri pun menikah
dengan pengusaha tersebut. Namun setelah menjalani pernikahan, Fitri banyak mangalami penderitaan,
setiap kali membuat kesalahan ia dicambuk, dipukul, dan ditendang.
( Di rumah pengusaha tersebut )
Pengusaha : Fitri !!! Cepat buatkan kopi. Ingat, jangan terlalu manis.
Fitri : Iya Mas ( sambil berjalan ke dapur )
Pengusaha : Fitri,,, Cepat !!!
Fitri : (sambil berlari mendekati pengusaha). Ini Mas kopinya
Pengusaha : (melemparkan kopi ke muka Fitri) Apa ini!!! Kanapa manis sekali! Kau ingin aku cepat mati apa !!
Fitri : Maaf Mas...aku tidak bermaksud melukai Mas.
Pengusaha : Awas kau (sambil menampar Fitri)
Narator : Hari demi hari Fitri lalui dengan penderitaan. Hingga suatu saat ketika ayahnya, Pak Warno mampir kerumah
pengusaha itu untuk sejenak menjenguk anaknya. Sebelum Pak Warno sampai didepan pintu rumah pengusaha itu,
ia mendengar jeritan tangisan dari Fitri dan segera mendekati Fitri yang sedang dipukul oleh suaminya.
Pak Warno sangat kesal melihat tingkah menantunya itu dan sempat terjadi adu mulut yang akhirnya dimenangkan
oleh menantunya itu. Pak Warno berencana untuk membawa anaknya keluar dari rumah pengusaha itu.
Namun pengusaha itu menyatakan, bahwa Jika Pak Warno Ingin membawa anaknya keluar dari rumah itu
dia harus menyediakan uang 100 juta untuk menebus Fitri. Fitri terus-terusan disiksa hingga dia tidak kuat dan dia berencana untuk pergi kekantor polisi dan melaporkan kekerasan
yang dialaminya. Namun sementara diperjalanan Fitri pingsan sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Di rumah sakit Fitri sempat bercakap - cakap dengan ayahnya soal suaminya itu.
(Di rumah sakit)
Fitri : Ayah, aku ngak mau lagi tinggal di rumah suamiku. Aku ingin pulang ke rumah ayah.
Pak Warno : Iya nak, maafkan Ayahmu yang serakah ini yah?
Fitri : Sudahlah Ayah, tidak usah disesali lagi. Aku senang kok, bisa berkorban buat teman - temanku. (sambil tersenyum).
Pak Warno : Maafkan Ayah... (sambil menangis memeluk anaknya).
Fitri : Ayah, aku ada satu permintaan, dapatkah Ayah mengambil kembali sertifikat tanah itu dan membiarkan sekolah itu terus berdiri dan menciptakan putra-putri bangsa yang kaya akan ilmu? Aku mohon Ayah? Tebus kembali sertifikat itu!
Pak Warno : Iya nak, ayah akan coba. Ayah akan bawa kamu pulang ke rumah dan menebus sertifikat tanah itu dan juga menjebloskan laki - laki itu ke penjara.
Fitri : Makasih ayah.
Narator : Pak Warno segera meninggalkan putrinya itu dan pergi ke rumah pengusaha kaya itu.
Di sana ia menyampaikan pesan terakhir yang ia dengar dari putrinya itu.
Permintaan itu ditanggapi dengan satu syarat bahwa uang untuk menebus kembali
sertifikat tanah itu adalah 2x dari harga pembelian ditambah 100 juta untuk menebus putrinya.
Pak Warno pun menyetujui permintaan pengusaha itu. Ia segera kerumahnya dan mengumpulkan
semua harta yang dimilikinya bahkan ia menjual seluruh lahan, sawah, bahkan rumah serta tanahnya
agar ia dapat menebus putri dan sertifikat tanah itu. Setelah uang itu diberikan kepada pengusaha itu,
pengusaha itu memberikan sertifikat itu kepada Pak Warno. Setelah mendapat sertifikat itu,
Pak Warno segera kerumah sakit untuk memberi tahu anaknya,
bahwa sertifikat itu telah ditebus dan putrinya itu tidak perlu pulang ke rumah suaminya itu.
Namun, apakah arti semua itu. Ketika tiba di rumah sakit, ia mendapati bahwa anaknya itu telah meninggal.
Ia sangat terpukul dengan keadaan tersebut. Pak Warno sungguh menyesal dengan apa yang telah ia buat.
Setelah melakukan proses pemakaman hingga selesai, ia melaporkan kejadian itu kepada polisi sehingga
pengusaha itu akhirnya ditangkap! Namun, di balik semua peristiwa itu, Pak Warno cukup lega hati karena
akhirnya ia bisa memenuhi permintaan terakhir dari anaknya yang begitu mulia.
Sekian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar